Review Betang: Cinta yang Tumbuh dalam Diam

Tak masalah duduk di haluan atau buritan,

asal kau, tetap menggerakkan dayungmu!

Membaca novel dari penulis Shabrina Ws selalu mengajak saya untuk berkelana di sebuah daerah yang boleh jadi belum terjamah. Terjamah dalam artian diri saya belum pernah mengunjunginya secara langsung. Namun, dalam novel Betang kali ini, saya seperti bernostalgia dengan bumi Borneo. Bumi yang pernah memberikan cerita tersendiri dalam hidup saya sebagai seorang perempuan masa itu.

Lagi-lagi menghadirkan kata cinta dalam sebuah novel memang memiliki daya pikat tersendiri bagi pembaca seperti saya. Bukan karena saya romantis atau penggila cinta tetapi karena memang saya ingin hidup dengan tebaran cinta dari segala penjuru kehidupan saya. Makanya kebiasaan mengumpulkan novel tak pernah lupa pasti ada saja cinta yang ikut bersama koleksi tersebut.

Dan novel Betang ini menguras memori saya akan tanah Bornoe yang sudah kutinggalkan beberapa waktu lalu…

***

 

Judul: Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam

Penulis: Shabrina Ws

Penerbit: Quanta – Imprint PT. Elex Media Komputindo

Tahun Terbit: 2013

Tebal: viii + 176 halaman

ISBN: 978-602-02-2389-6

Danum. Seorang wanita yang dilahirkan di tanah Borneo dan merasakan kehidupan dalam sebuah Betang, rumah adat masyarakat Borneo yang menarik untuk ditelisik lebih jauh. Rumah yang luas dan dipercantik dengan ukiran khas yang sering disebut dengan Batang Garing. Di Betang inilah kisah Danum dimulai. Beragam suka duka menjadi saksi kehidupan Danum bersama Arba (kakak Danum), Ini (nenek) dan Kai (kakek). Uma (ibu) Danum sudah tiada tanpa Danum tahu dengan jelas paras wajahnya.

Danum dilahirkan untuk menjadi pedayung sejati. Bertemu dengan Dehen, teman masa kecil, membuatnya semakin semangat untuk membuktikan bahwa nama Danum yang melekat pada dirinya memang ditakdirkan untuk menaklukkan air. Namun, perjalanan menjadi pedayung sejati bukan hal yang mudah. Seperti halnya semua orang di dunia ini, meraih cita-cita harus dengan perjuangan yang tidak ringan bahkan harus dibayar dengan tetesan keringat dan materi yang cukup besar.

Apalagi Danum melihat keberhasilan Dehen yang sudah sangat jauh. Membuat Danum merasa tak pantas untuk mengharapkan cinta pada seorang lelaki dengan kesuksesan yang sangat dielu-elukan. Ditambah lagi lika-liku kehidupan Danum yang tak senormal manusia pada umumnya.

Banyak hal yang harus Danum lewati untuk membesarkan cita-citanya menjadi pedayung sejati, cita-cita Kai dan seluruh anggota keluarganya. Bersama itu ada perjuangan cinta pada Dehen yang selama ini hanya dikemas dalam diam.

***

Overall, novel Betang ini sudah menggambarkan kehidupan masyarakat tanah Borneo yang diwakili oleh kehidupan Danum. Namun, ada sedikit hal yang mungkin perlu saya koreksi mengenai nama jalan. Di dalam novel tersebut tertulis MT. Milono. Setahu saya jalan yang ada di kota Palangkaraya itu adalah RTA. Milono.

Kisah yang begitu singkat (terlihat dari halaman novel yang tipis) membuat rasa puas masih kehausan sampai saat ini. Masih ingin membaca kisah perjuangan Danum dan Dehen dalam mempertahankan rasa yang pada mulanya hanya terkuak dalam diam.

Di dalam novel menceritakan tentang ayah Danum yang bekerja sebagai pemilik rumah makan di kota Palangkaraya, namun sayang tak diangkat ikan khas tanah Borneo yang menjadi incaran para wisatawan asing dan manca negara, seperti ikan Patin dan ikan Arruan. Saya jadi ingat betapa enaknya ikan-ikan tersebut. Mungkin bisa diangkat sebagai pelengkap novel Betang ini. Mungkin…

Ada juga halaman yang seharusnya memiliki tanda untuk catatan kaki tetapi tidak dicantumkan. Mungkin kelupaan (tetap berpikir positif itu lebih baik ). Namun, tetap senang membaca novel Betang ini karena Shabrina Ws membawa kembali kenangan saya saat mengukir nasib di tanah Borneo.

Saya beri 3 dari 5 bintang untuk novel ini…