Moonlight Waltz: Ketika Cinta itu Rela

Moonlight Waltz adalah novel pertama yang saya baca di bangku kuliah pascasarjana dulu. Buku novel yang sebenarnya tanpa sengaja saya baca sekilas di sebuah angkutan umum. Waktu itu sedang menunggu Pak Sopir untuk melaju dan mengantarkan saya ke kampus. Tetapi karena harus menunggu isi angkutan “agak penuh”, maka jadilah penantian itu membawaku pada sebuah posisi melirik sebuah novel menarik di sebelah tempat saya duduk.

Sejak saat itu, saya berniat untuk membeli buku itu di suatu waktu. Dan akhirnya, tanpa sengaja pula, ketika berjalan ke salah satu pusat perbelanjaan, mall, maka dengan langkah mudah untuk memasuki toko buku ternama di situ. Novel Moonlight Waltz sebenarnya sudah “agak terlupa” kala itu. Tetapi karena sudah diniatkan untuk mencarinya suatu saat maka Tuhan melirikkan mata saya pada sampul novel ini kala itu. Jadilah aku memilikinya sampai sekarang.

***

Arlin memang sosok yang tak suka musik. Namun semua berubah ketika hadir sosok pria bernama Aldo. Aldo yang merupakan laki-laki yang pandai dalam memainkan piano. Alunan suara ketukan not-not begitu membuka mata Arlin untuk kemudian menyukai musik.

Tak hanya pada musik. Arlin pun terlampau jatuh cinta pada Aldo. Menemani hari-hari Aldo bahkan “sempat” menerima cinta Aldo. Tetapi, Arlin tak menyadari jika di hati Aldo ada wanita lain, Liora. Wanita ini pandai dalam dunia tarik suara. Begitulah Aldo, mencintai Liora sejak dulu karena berharap akan ada keselarasan dalam hubungan dan pekerjaan mereka.

Arlin mulai tersadar bahwa posisinya memang keliru. Aldo tak mencintainya sedalam Liora. Tak pernah sepenuh hati menumbuhkan kasih sayang seperti Aldo menyayangi Liora. Apalagi Liora tak sekedar wanita yang juga cinta pada Aldo. Liora adalah motivator Aldo untuk berkarya di tengah keinginan Aldo yang tak sejalan dengan orang tua Aldo, ibunya ingin Aldo menjadi dokter.

Begitulah cinta. Alunan Moonlight Waltz mengantarkan cinta Arlin pada Aldo berlalu bersama Liora. Sepenuhnya Arlin sadar bahwa cinta tak baik jika dipaksakan. Meskipun kini bahagia, suatu saat pasti akan menuai masalah jika terus dipaksakan mencintai.